Kabar Kinabalu – Beberapa Anggota Parlemen Malaysia menjadi korban ancaman siber menggunakan video cabul buatan AI. Pelaku mengaku memiliki video palsu yang menampilkan wajah anggota parlemen yang telah direkayasa, dan mengancam akan menyebarkannya kecuali uang tebusan US$100.000 (± Rp1,6 miliar) dibayarkan.

Siapa Korban dan Cara Ancaman Dilancarkan
Baca Juga : Penerbangan Langsung dari Malaysia ke Pontianak Resmi Dibuka
Beberapa korban yang melapor antara lain:
-
Mohammed Taufiq Johari (MP Sungai Petani)
-
Mohd Najwan Halimi (Dewan Kota Anggerik, Selangor)
-
Wong Chen (MP Subang)
-
Rafizi Ramli (MP Pandan)
-
Chan Foong Hin (MP Kota Kinabalu)
Ancaman dikirim melalui email anonim. Pelaku menyertakan tangkapan layar video yang telah diedit/seolah-olah asli, beserta kode QR atau petunjuk transfer pembayaran agar tebusan dibayar dalam tenggat waktu tertentu.
Semua korban sejauh ini menolak membayar dan melaporkan kasus ke pihak berwenang.
Respons Pemerintah dan Penegak Hukum
-
Kepolisian Malaysia (PDRM) menyatakan bahwa mereka menyelidiki beberapa laporan dari MP, senator, dan anggota legislatif negara bagian terkait pemerasan menggunakan video pornografi rekayasa AI.
-
Malaysian Communications and Multimedia Commission (MCMC) akan membantu dalam aspek teknis menyusuri asal ancaman, alamat email, server, dan bukti digital lain.
-
Kementerian Komunikasi menyebut bahwa tindakan hukum diambil di bawah ketentuan hukum yang meliputi Communications and Multimedia Act 1998 (Pasal 233) dan KUHP tentang pemerasan & komunikasi ofensif. Hukuman berupa denda besar atau hukuman penjara dapat dijatuhkan jika terbukti.
Implikasi dan Tantangan
-
Kecanggihan Teknologi AI
Teknologi penghasil gambar/video semacam deepfake makin mudah diakses, sehingga manipulasi wajah atau suara makin halus dan sulit dibedakan secara kasat mata. Ancaman seperti ini menggarisbawahi kebutuhan peningkatan literasi digital serta upaya deteksi yang lebih baik. -
Dampak Reputasi & Psikologis
Ancaman penyebaran video semacam itu, meski video tersebut palsu, dapat merusak nama baik, kepercayaan publik, dan menyebabkan tekanan psikologis yang berat terhadap target. -
Penegakan Hukum
Kesulitan utama adalah pelacakan pelaku yang sering menggunakan identitas anonim, server luar negeri, dan metode pembayaran kriptik. Selain itu, bukti digital harus cukup kuat agar tuduhan dapat dibuktikan di pengadilan.
Kesimpulan
Kasus ancaman video AI palsu terhadap anggota parlemen Malaysia ini menjadi peringatan keras tentang bagaimana teknologi bisa disalahgunakan dalam aktivitas kriminal. Respons cepat pemerintah dan lembaga penegak hukum sangat penting, serta penguatan regulasi dan edukasi masyarakat mengenai hoaks dan manipulasi digital. Upaya pencegahan kemungkinan mencakup audit keamanan siber, regulasi penggunaan AI, dan kerjasama internasional.








