Kabar Kinabalu – Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim kembali menegaskan komitmen pemerintah federal untuk mempertahankan hak dan kedaulatan wilayah Sabah dalam sengketa laut dengan Indonesia di Ambalat—wilayah yang oleh Malaysia disebut Blok ND6 dan ND7 di Laut Sulawesi. Pernyataan ini muncul saat kunjungan kerja PM Anwar ke Kota Kinabalu, merespons tekanan publik dan pertanyaan anggota parlemen Sabah mengenai perkembangan negosiasi batas maritim antar-negara.

Tegas Lindungi Sabah, Tanpa Menyerah
Baca Juga : Soal Blok Ambalat, PM Anwar: Saya Akan Pertahankan Sejengkal pun Tanah Sabah
>>>>Anwar menegaskan bahwa “kami akan merundingkannya dengan tepat, tanpa menyerah”, sekaligus mengatakan bahwa setiap keputusan harus melibatkan pemerintah negeri Sabah dan Dewan Legislatif Negara (DUN) setempat.
Kata-kata tegas seperti “Kami akan melindungi setiap jengkal Sabah” mencerminkan posisi pemerintah federal Malaysia dalam menjaga integritas wilayah negara.
Jejak Diplomasi, Bukan Konflik
Sengketa tersebut melibatkan potensi kekayaan migas yang tinggi. Meskipun demikian, Anwar menegaskan bahwa pendekatan Malaysia terhadap Indonesia adalah melalui diplomasi, bukan antagonisme. Ia menyebut bahwa pertemuan dengan Presiden RI Prabowo Subianto merupakan tanda persahabatan dan kesepakatan untuk mengeksplorasi opsi joint development. Meski belum mencakup kesepakatan final.
Para analis menyoroti bahwa kendala utama dalam penyelesaian sengketa ini bukan politik. Melainkan teknis dan komersial—termasuk detail kontrak dan pengaturan eksplorasi energi yang belum rampung.
Siap Gugat ke Forum Internasional. Sambil Percepat Pembangunan Sabah
Anwar juga menyatakan kesiapan Malaysia untuk membawa sengketa ke jalur hukum internasional, termasuk pengadilan, jika diplomasi tak membuahkan hasil. Ia menyebut bahwa telah dialokasikan dana hingga RM100 juta untuk memperkuat klaim kedaulatan melalui upaya legal. Selain itu, dalam rangka penguatan hubungan federal-negeri, pemerintah pusat telah menggandakan bantuan interim (from RM300 juta to RM600 juta). Melanjutkan pembangunan Jalan Pan-Borneo sebesar RM10 miliar. Serta menyerahkan kendali listrik dan subsidi RM3,54 miliar hingga 2030 kepada Sabah. Ini bagian dari upaya mempertegas bahwa masa depan Sabah adalah bagian dari masa depan Malaysia.
Tantangan dan Harapan Damai
Sengketa Ambalat tidak hanya soal batas maritim, tetapi juga menyentuh aspek sejarah, hukum internasional, keamanan, ekonomi, dan hubungan antarwilayah dalam negeri Malaysia dan Indonesia. Penggunaan istilah berbeda—”Laut Sulawesi” oleh Malaysia versus “Blok Ambalat” oleh Indonesia—menambah sensitivitas diplomatik.
Pemerintah Indonesia sejauh ini menyatakan kesediaannya menjaga penyelesaian damai. Sementara parlemen RI juga menekankan upaya mempertahankan kedaulatan Indonesia melalui pendekatan diplomatik.
Kesimpulan
Pernyataan Anwar Ibrahim di Sabah pada Agustus 2025 menegaskan posisi Malaysia: menjaga integritas Sabah dengan tegas, merespons aspirasi lokal, dan terus menempuh jalur diplomasi maupun hukum internasional bila diperlukan. Di tengah sengketa lama ini, optimisme terhadap penyelesaian damai melalui kerja sama tetap menjadi arah yang diperjuangkan kedua negara.








