Kabar Kinabalu – Harga minyak mentah global kembali melemah pada perdagangan Kamis, 2 Oktober 2025. Minyak Brent tercatat turun 1,9% ke USD 64,11 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) jatuh 2,1% ke USD 60,48 per barel. Angka ini menjadi titik terendah dalam empat bulan terakhir, sekaligus memperpanjang tren penurunan selama empat hari berturut-turut.

Pelemahan harga minyak ini dipicu kombinasi sentimen negatif, mulai dari kekhawatiran kelebihan pasokan (oversupply), melemahnya permintaan energi global, hingga proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih lambat dari perkiraan.
Baca Juga : Ini Penjelasan Lengkap Fungsi Etanol, Bikin Vivo dan BP Batal Beli BBM dari Pertamina
Sentimen Utama yang Menekan Harga Minyak
1. Kekhawatiran Kelebihan Pasokan dari OPEC+
Pasar energi global masih menanti keputusan OPEC+ yang dikabarkan akan menaikkan produksi hingga 500.000 barel per hari pada November 2025. Jumlah ini tiga kali lipat dari penambahan produksi bulan Oktober, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa pasar akan banjir pasokan.
Langkah tersebut dipandang sebagai strategi negara produsen besar, termasuk Arab Saudi, untuk mempertahankan pangsa pasar. Namun, pasar menilai keputusan itu bisa memperburuk tekanan harga.
2. Lonjakan Stok Minyak di Amerika Serikat
Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat di AS meningkat lebih besar dari perkiraan. Penyebabnya adalah aktivitas kilang yang melambat serta turunnya konsumsi bahan bakar. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa permintaan energi di negara konsumen terbesar dunia tengah melemah.
3. Pelemahan Permintaan Global
Selain AS, indikator permintaan dari kawasan Asia juga menunjukkan tren melambat. Sektor manufaktur yang lesu serta ketidakpastian ekonomi global membuat proyeksi kebutuhan energi direvisi turun oleh sejumlah lembaga riset. Investor pun khawatir konsumsi energi dunia tidak akan mampu menyerap tambahan pasokan dari produsen.
Faktor Geopolitik Jadi Penahan Sementara
Meski tekanan harga cukup kuat, sejumlah analis menilai risiko geopolitik masih bisa menahan penurunan lebih dalam. Potensi gangguan pasokan minyak dari Rusia, ditambah kebijakan negara-negara G7 yang membatasi pembelian minyak Rusia, bisa menjadi faktor yang sedikit menahan jatuhnya harga. Namun, efeknya dianggap belum cukup signifikan dibandingkan derasnya sentimen oversupply.
Dampak dan Prospek ke Depan
Penurunan harga minyak global tentu membawa dampak berlapis. Bagi negara konsumen, harga energi lebih murah bisa menjadi angin segar karena menekan biaya impor. Namun bagi produsen, terutama yang memiliki biaya produksi tinggi seperti di Amerika Serikat, harga minyak di bawah USD 65 per barel bisa menggerus keuntungan dan mengurangi aktivitas pengeboran.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat ditentukan oleh:
-
Keputusan resmi OPEC+ terkait produksi.
-
Data permintaan energi global, khususnya di Asia.
-
Perkembangan geopolitik, terutama konflik Rusia dan Timur Tengah.
Jika permintaan global pulih, harga minyak berpotensi rebound. Namun jika tekanan oversupply terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan harga bisa terjun lebih dalam.








