Kabar Kinabalu – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Namun, persoalan yang mengiringinya tidak hanya bersumber dari bakteri Mycobacterium tuberculosis, melainkan juga dari stigma sosial yang masih kuat melekat di tengah masyarakat.

Stigma Menghambat Penanganan TBC
Kementerian Kesehatan mencatat, sebagian besar pasien TBC mengalami hambatan dalam mengakses layanan kesehatan akibat rasa takut dan malu diketahui lingkungan sekitar. Kondisi ini membuat banyak penderita enggan memeriksakan diri sejak awal, sehingga penularan terus berlangsung secara diam-diam.
Baca Juga : Serahkan Bukti ke Polisi, Wardatina Mawa Putuskan Akhiri Rumah Tangganya
“Banyak pasien memilih menunda berobat karena takut dicap negatif. Padahal TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan bila ditangani secara tepat,” ujar dr. Rini Hartati, Ketua Program Pengendalian TBC salah satu fasilitas kesehatan rujukan di Jakarta, Senin (8/12/2025).
Ia menegaskan bahwa pengobatan TBC saat ini sudah tersedia secara gratis melalui fasilitas kesehatan pemerintah. Dengan kepatuhan minum obat selama enam bulan, peluang sembuh sangat tinggi.
Dampak Sosial Lebih Berat dari Penyakitnya
Selain gangguan kesehatan, stigma TBC juga berdampak pada kondisi sosial dan psikologis pasien. Tidak sedikit penderita yang mengalami pengucilan, dijauhi rekan kerja, hingga kehilangan pekerjaan.
“Stigma sering kali lebih menyakitkan dibandingkan penyakitnya. Penderita merasa malu, minder, bahkan menarik diri dari lingkungan,” kata Nurhayati, pendamping pasien TBC dari sebuah LSM kesehatan.
Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar berperan penting untuk membantu pasien bertahan menjalani pengobatan panjang. Keterbukaan informasi dan edukasi publik dinilai menjadi kunci untuk memutus rantai stigma yang selama ini berkembang.
Upaya Pemerintah dan Tenaga Kesehatan
Pemerintah terus mendorong kampanye edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, termasuk melalui kader kesehatan di tingkat desa dan posyandu. Selain memperluas akses layanan, pemerintah juga menargetkan eliminasi pada 2030.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa TBC bukan kutukan. Siapa pun bisa terkena, dan siapa pun bisa sembuh,” ujar dr. Rini menambahkan.
Ia menekankan pentingnya pemeriksaan dini bagi warga yang mengalami batuk lebih dari dua minggu, demam, berkeringat malam hari, atau berat badan turun tanpa sebab.
TBC Bisa Disembuhkan, Stigma Harus Dihentikan
Para tenaga kesehatan sepakat, menghilangkan stigma adalah langkah fundamental dalam percepatan penanganan. Edukasi massal, keterlibatan komunitas, dan pemberdayaan pasien dinilai sebagai strategi yang harus terus diperluas.
“Yang perlu dilawan itu bukan hanya bakterinya, tapi juga stigma. bukan aib, tetapi penyakit yang bisa disembuhkan,” tegas Nurhayati.
Dengan pemahaman yang benar, kesadaran kolektif, serta dukungan penuh kepada pasien, Indonesia optimistis








